19 April 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Dua Perkembangan OTT Rommy, Antara Menteri Agama Hingga Gubernur Jawa Timur


Dua Perkembangan OTT Rommy, Antara Menteri Agama Hingga Gubernur Jawa Timur

KLIKSAMARINDA.COM - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita uang senilai US$30 ribu dan Rp180 juta rupiah dari ruang Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di kantor Kemenag, Jakarta, Senin 18 Maret 2019 lalu. Uang itu, menurut KPK, bukan uang honorer. Jika uang itu adalah honorer, KPK menyebut itu mestinya dilaporkan.

"Temuan uang di Kemenag dipastikan bukan honorer menteri, kami pastikan," ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah, di gedung KPK, Jakarta, Kamis 21 Maret 2019, dikutip dari CNN Indonesia.

Menurut Febri, KPK juga menemukan uang-uang yang lain di ruangan Menag pada saat itu. Dari informasi atau dari data yang ada di sana, itu diduga merupakan honorarium, dan uang-uang tersebut tidak dibawa (oleh penyidik KPK).

Sejak awal, Febri menyebut pihaknya sudah memisahkan antara uang honorarium dengan yang terkait kasus.

"Jadi sejak awal, tim kpk sudah memisahkan mana uang dalam amplop yang merupakan honor, mana yang bukan," kata Febri.

KPK juga memastikan ketika melakukan penyitaan berarti penyidik itu menduga bukti bukan hanya uang. Ada bukti dokumen, laptop, dan yang lainnya diduga terkait dengan pokok perkara.

Febri menegaskan ada standar nilai untuk honorarium bagi penyelenggara negara atau pegawai negeri terkait acara tertentu. Jika melebihi standar nilai, pejabat terkait mestinya melaporkan itu ke Direktorat Gratifikasi KPK.

Masih dari CNN Indonesia, perkembangan lainnya dari kasus OTT Romahurmuziy adalah pengakuan mantan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu yang menolak tudingan yang menyebutnya terlibat jual beli jabatan di Kementerian Agama (Kemenag).

Romi beralasan, dirinya hanya sebatas penyampai aspirasi karena dirinya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Romi bahkan menyebut nama Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, ikut merekomendasikan Haris Hasanuddin menjadi Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provisinsi Jawa Timur. Haris diketahui juga ditetapkan tersangka pemberi suap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Ibu Khofifah Indar Parawansa, misalnya, beliau gubernur terpilih yang jelas-jelas mengatakan 'mas Romi percayalah dengan Haris karena Haris ini orang yang kerjanya bagus," kata Romi di gedung KPK, Jakarta, Jumat 22 Maret 2019.

Romi mempertanyakan apakah aspirasi yang ia terima akan menimbulkan dosa. Dia juga mengatakan bahwa hal itu tidak menghilangkan proses seleksinya.

Selain Khofifah, Romi juga mengatakan bahwa ada juga seorang ulama, Kiai Asep Saifuddin Halim yang juga ikut merekomendasikan Hasan sebagai Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur.

"Memang dari awal saya menerima aspirasi itu dari seorang ulama, Kiai Asep Saifuddin Halim yang dia adalah seorang pimpinan ponpes besar di sana," ujarnya.

Romi mengatakan bahwa proses seleksinya itu dilakukan oleh panitia yang sangat profesional. Romi mengaku tidak mengintervensi proses seleksinya. (*)




Comments

comments


Komentar: 0