21 Februari 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Tuntut Keadilan, Orang Tua Korban Kekerasan di PAUD Surya Eka Dharma Manggala Serahkan Bukti


Tuntut Keadilan, Orang Tua Korban Kekerasan di PAUD Surya Eka Dharma Manggala Serahkan Bukti
Ilustrasi

KLIKSAMARINDA.COM - Kasus dugaan kekerasan terhadap anak balita berusia 4.5 tahun yang diduga dilakukan seorang pengajar di sebuah Yayasan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Surya Eka Dharma Manggala di Jalan Subulu Salam, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) memasuki babak baru.

Kali ini, orang tua korban, Delima, mendatangi Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Jalan Dewi Sartika, Samarinda, Kaltim yang diterima oleh Ketua Harian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Adji uwignyi Selasa sore, 12 Februari 2019.

Orang tua korban tetap menuntut keadilan karena kasus ini telah dua bulan tanpa kejelasan. Kedatangan orang tua korban kali ini disertai sejumlah bukti rekaman video pengakuan anak beserta foto-foto beka kekerasan fisik pada tubuh sang anak.

Kasus penganiayaan terhadap balita di Yayasan PAUD Surya Eka Dharma Manggala di Jalan Subulu Salam, Samarinda ini diduga terjadi pada 25 November 2018 lalu dan dilaporkan ke pihak kepolisian pada 27 November 2018 dengan bukti lapor dengan nomor laporan polisi: LP/749/XI/2018/Kaltim/Resta Smd tertanggal 27 November 2018.

Polisi sendiri saat ini tengah menunggu salah seorang saksi dari pihak sekolah dan hasil tes psikologi korban untuk menindaklanjuti kasus tersebut. Saat ini, saksi masih berada di Singapura dan terduga pelaku saat ini berada di Taiwan.

Ketua KPAI Kaltim, Aji Suwignyo menyampaikan, selain menyerahkan foto-foto korban pasca penganiayaan, orang tua korban juga menyerahkan video pengakuan DN (25), seorang staf pengajar di Yayasan PAUD Surya Eka Dharma Manggala, yang diduga telah melakukan penganiayaan terhadap korban.

Adji mengatakan, pihaknya telah melaporkan kasus ini kepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Dalam waktu dekat, menurut Adji, kasusnya akan digelar di Jakarta.

Selain itu, KPAI Kaltim juga telah berkirim surat ke Polda Kaltim untuk menindaklanjuti kasus ini. Pihaknya meminta agar Polda Kaltim mengambil alih penanganan kasus tersebut dari Polresta Samarinda.

Dalam kacamata KPAI Kaltim, terdapat kelalaian penyidik yang menganggap bahwa kasus kekerasan terhadap anak adalah kasus biasa. Akibatnya, pelaku bisa leluasa berangkat ke luar negeri.

Padahal, menurut Adji, sejumlah alat bukti dan saksi telah lengkap. Kasus ini pun telah dilaporkan kepada polisi dua hari setelah kejadian.

"Sangat disayangkan karena lamanya proses ini. Imbasnya, keluarga korban wira wiri nyiapkan. Banyak tenaga pikiran. Kenapa sih jelas ada buktinya gak bisa diproses. Ada apa. Ini jelas pidana murni terhadap anak. Ada visum, ada korban, ada alat bukti lainnya. Intinya memang perlu koordinasi dengan baik. Karena Undang Undangnya khusus, tolong diperhatikan. Ini berbeda dengan kekerasan biasa," ujar Adji.

Sementara itu, orang tua korban membawa rekaman video pengakuan anak beserta foto-foto bekas kekerasan fisik pada tubuh sang anak. Video berdurasi dua menit itu menampakkan pelaku yang ditanya ibu korban yang memperlihatkan cara dia memukul korban langsung dengan memperagakannya ke ibu korban.



Reporter : Jie    Editor : Dwi Hendro B.



Comments

comments


Komentar: 0