21 Februari 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Potret Kemiskinan di Kukar, Lansia Hidup Sebatang Kara Digubuk Reot


Potret Kemiskinan di Kukar, Lansia Hidup Sebatang Kara Digubuk Reot
Mbah Simpen, nenek berusia lanjut berumur 130 tahun di Kukar. (Ist)

KLIKSAMARINDA.COM - Meski Hidup di Kabupaten penghasil Batubara terbesar nasional. Tak membuat nenek usia lanjut berumur 130 tahun bernama mbah Simpen menikmati manisnya kue pembangunan. 

Hidup serba keterbatasan di rumah dengan kondisi yang sangat tidak layak huni. Rumah sebagai tempat ia bernaung  berukuran 5X3 Meter saja dan tidak memadai. Bahkan, perempuan yang dulunya berkerja sebagai tukang pijat keliling ini hanya bisa ngesot akibat kelumpuhan yang dialaminya sejak satu tahun ini.

Sehari-hari Mbah Simpen hanya bisa menunggu belas kasihan tetangga sekitar untuk makan. Sementara perhatian pemerintah daerah hanya sebatas memberikan bantuan langsung tunai yang tidak bisa dinikmatinya karena bantuan itu tak sampai kepada Mbah Simpen.

Mbah Simpen berdiam di Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara. Tinggal seorang diri dalam kondisi yang sangat memprihatinkan di dalam rumah berdinding dan beralas papan lapuk.

Dalam rumah yang dihuni mbah simpen dengan kondisi gelap itu terlihat sisa sayur dan nasi di atas piring yang sudah dikerubuni lalat. Tilam tidurnya pun sudah lapuk, obat nyamuk bakar jadi teman sehari-hari siang dan malam.

Mbah Simpen kini hanya bisa duduk di tempat tidurnya. Pakaian yang dikenakan hanya bisa menutupi bagian atas tubuhnya, sementara bagian bawah tubuhnya tidak tertutup hanya kain handuk yang digunakan perempuan yang masih memiliki penglihatan baik ini untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.

Tidak ada dapur dirumah Mbah Simpen apalagi MCK. Jika ingin membuang air kecil maupun Air Besar ia harus merangkak sejauh 3 meter menuju sebuah lubang yang berada di pojok ruangan yang berada di sebelah bekas kandang ayam. 

Mbah Simpen memiliki famili, namun sayang cucunya yang  tinggal tidak jauh dari tempat ia menetap sama sekali tidak diperdulikannya. Sementara dua anaknya yang berkerja sebagai petani telah meninggal dunia akibat di patuk ular Cobra saat berada di sawah.

Sekira pukul 09.45 WITA,  10 Januari 2019 media ini berkesempatan menyambangi rumah Mbah Simpen  di sela giat Bakti Sosial Polsek Tenggarong Seberang saat membagikan sembako yang bersumber dari kocek personel Polsek Tenggarong Seberang.

Bersama rombongan Kepala Desa (Kades) Bangun Rejo, Ahmad Yunus dan Kapolsek Tenggarong Seberang IPTU Abdul Rauf yang mengecek laporan warga tentang kondisi Mbah Simpen yang ternyata tidak pernah mendapatkan pelayanan kesehatan meski tercatat sebagai warga Kabupaten Kutai Kartanegara.

Mbah Simpen datang ke Kukar sejak tahun 1980 silam sebagai peserta program transmigrasi asal Pulau Jawa. Mbah Simpen ke Kaltim bersama suami dan anak-anaknya.

Mbah Simpen dikenal sebagai tukang urut menurut warga sekitar. Bahkan saat sang suami meninggal terlebih dahulu. Mbah Simpen tetap konsisten menekuni pekerjaanya untuk kehidupan sehari hari sementara dua anaknya terus membuka lahan pertanian.

Namun seiring masa tuanya ibu dua anak ini kemudian terlantar. Ia hidup berpindah - pindah dari rumah satu ke rumah lainnya hingga akhirnya sang cucu membawa mbah simpen ke rumahnya di Bangun Rejo.

"Kelumpuhan saya alami ini setelah terjatuh tahun lalu," kata Mbah Simpen.

Melihat kondisi kesehatan Mbah Simpen yang terus menurun setahun ini, Kapolsek Tenggarong Seberang berupaya memebantu Mbah Simpen mendapat perawatan yang lebih baik termasuk mencarikan orang yang mau merawat Mbah Simpen.

"Saya bersedia membiayai biaya perawat selama setahun. Namun untuk pelaksanaanya saya masih menunggu koordinasi dengan PJ Kades. Pastinya dalam waktu dekat ini karena kita lihat kondisi beliau ini semakin hari kondisi kesehatanya semakin menurun jadi perlu penanganan cepat," tuturnya.

Sementara itu Plt Kades Bangun Rejo, Yunus mengatakan, Mbah Simpen merupakan warga yang masuk dalam Program Raskin yang saat ini diganti dengan uang tunai namun yang mengelola uang itu adalah cucunya.

begitu juga dengan pemeriksaan kesehatan rutin untuk mbah Simpen. Padahal selama ini Pemkab Kukar memiliki Program Posyandu untuk lansia. Namun Kades tidak mengetahui pasti apakah mbah simpen termasuk dalam warga yang didatangi setiap minggunya.

"Yang bersangkutan tidak bisa beraktifitas, berjalan pun tidak bisa bisa jadi cucunya tidak memiliki waktu untuk untuk mengurus Mbah Simpen," tambahnya.

Sementara itu untuk membantu dan membuat rumah Mbah Simpen layak huni. Pihak Desa dan  Kapolsek Teluk Dalam Dibantu warga akan segera melakukan bedah rumah agar rumah itu layak dihuni."Perawat yang menjaga nantinya juga bisa bertahan karena rumahnya memang layak untuk dihuni," ungkap Yunus.

Reporter : Syur.    Editor : NR Syaian



Comments

comments


Komentar: 0