23 Oktober 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Nah, Pengungsi Korban Gempa dan Tsunami Sulteng di Samarinda Terbebani Biaya Kesehatan


Nah, Pengungsi Korban Gempa dan Tsunami Sulteng di Samarinda Terbebani Biaya Kesehatan

KLIKSAMARINDA.COM - Para pengungsi korban terdampak gempa dan tsunami asal Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) di Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), masih memerlukan perhatian. Misal, dalam soal kesehatan.

Seperti yang dialami bayi berumur 2 tahun bernama Nur Aisyah. Sejak Senin malam, 8 Oktober 2018, kondisi balita ini drop dan mengalami kenaikan suhu badan. Selain itu, Nur Aisyah mengalami mual dan muntah-muntah serta terus buang air besar.

Kondisi tersebut terjadi pasca dirinya bersama sang ibu dan puluhan pengungsi lainnya menempuh perjalanan jauh dari Sulteng ke Kota Tepian. Setiba di Samarinda, mereka tinggal di rumah kerabat di Jalan Sawi, RT 27, Kelurahan Karang Asam Ulu, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda.

Di rumah type 36 berlantai dua itu, kondisi Nur Aisyah yang terus memburuk menyebabkan sang ibu bersedih. Selain karena kondisi kesehatannya terus memburuk, biaya pengobatan kesehatan di Samarinda menjadi beban baginya.

Bagaimana tidak, saat hendak mengobati Nur Aisyah di sebuah klinik di Jalan Cendana, Samarinda, petugas klinik menetapkan tarif sebesar Rp400 ribu untuk menebus obat. Sang ibu dan para pengungsi pun kaget sebab mereka tak siap dengan biaya yang dibebankan untuk pengobatan tersebut.

Mereka kemudian mencoba meminta bantuan keringanan kepada pihak klinik. Usaha para pengungsi ini diakomodir pihak klinik dengan memberikan bantuan obat gratis.

Meski begitu, pihak klinik tetap meminta para korban untuk membayar biaya pemeriksaan dokter senilai Rp100 ribu. Dengan patungan, para pengungsi ini pun membayar biaya dokter kepada pihak klinik.

Seorang pengungsi, Nur Ana, menjelaskan jika dirinya bersama pengungsi yang lain telah hidup di alam terbuka selama sepekan pasca gempa dan tsunami Palu, 28 September 2018 lalu. Karena itu, setelah sampai di Samarinda, kondisi tubuh mereka kurang sehat.

Apalagi dengan kondisi balita Nur Aisyah yang kerap muntah. Nur Ana meminta adanya perhatian terhadap para pengungsi karena mereka tidak tahu harus berbuat dan menyikapi kondisi di pengungsian sementara ini.

Sebelumnya, para pengungsi bersama Nur Ana telah berulang kali didata oleh petugas pemerintah sejak menempuh perjalanan dari Pelabuhan Pantaloan, Palu hingga di Samarinda. Namun, setelah tiba di rumah kerabatnya, tak ada petugas dari pemerintah yang datang.

"Saya jelaskan, ini dari pengungsian. Di sana tidur di alam bebas. Jadi sekarang kembung, mual, muntah. Akhirnya buang air terus. Saya ke apotik, saya jelaskan tidak bisa nebus. Saya gak punya duit. Tapi kita sudah bersyukur diringankan begitu," ujar Nur Ana, Rabu 10 Oktober 2018.

Hingga Rabu 10 Oktober 2018, tercatat ada 233 orang pengungsi dari Sulteng di Samarinda berdasarkan data yang dihimpun dari Posko Relawan Bencana Samarinda. Mereka terbagi di 11 wilayah di Samarinda. Umumnya, mereka menumpang di rumah kerabat. (*)

Reporter : Jie    Editor : Klik Samarinda



Comments

comments


Komentar: 0