17 November 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Kericuhan Proses Pilrek Unmul 2018, Ini Kronologinya


Kericuhan Proses Pilrek Unmul 2018, Ini Kronologinya
Kericuhan saat penyampaian visi misi pemilihan Rektor Unmul Selasa 10 Juli 2018 (Foto: KLIK)

KLIKSAMARINDA.COM - Kericuhan saat penyaringan bakal calon rektor Universitas Mulawarman (Unmul) tak terhindarkan. Kendati demikian, kegiatan terus berlanjut dan mengeluarkan 3 besar hasil, Prof. Dr. Masjaya, M.Si 60 suara, Prof. Dr. Susilo 19 suara, Dr. Drs. La Ode Rinaldi M.Si 5 suara dan 1 suara abstain.

Dua calon lainnya, Ir. Sukartiningsih M.Sc, Ph.D dan Dr. Drs. Asnar M.Si sama sekali tidak mendapatkan suara.

Keributan bermula saat salah satu bakal calon rektor, yakni Asnar, mulai menyampaikan visi-misinya. Sekelompok orang tiba-tiba masuk ruang penyampaian visi-misi. Massa menyuarakan aspirasi agar Unmul dipimpin oleh putra asli Kaltim.

Tak kunjung usai, mediasi dilanjutkan bersama perwakilan Kemenristek-Dikti yang turut pula hadir. Pun, panitia pelaksana pemilihan Rektor Unmul bersama kubu salah satu Bakal calon Rektor Unmul Asnar, yang tak juga kunjung membuahkan hasil.

Padahal diketahui, internal senat Unmul yang berada di ruang rapat lantai 3 Rektorat, (tempat penyampaian Visi misi setelah perubahan tempat, Red) sempat melanjutkan Rapat Senat Tertutup pemilihan 3 nama yang akan diputuskan sebagai calon Rektor tanpa kehadiran Asnar.

Tak lama, keributan terus berlangsung dalam ruang rapat senat tertutup yang hanya bisa diakses anggota senat. Tampak salah seorang membawa papan perhitungan Suara ke dalam ruang rapat bersama anggota Senat.

Tak berselang lama, terlihat beberapa orang mencoba memaksa masuk ke dalam ruang tertutup yang hanya khusus dihadiri anggota Senat. Saat itu, sempat terjadi adu mulut dengan pihak keamaan kampus dan panitia, bahkan terjadi aksi adu dorong akhirnya mereka berhasil mendobrak masuk ruangan pemilihan.

"Kenapa kami tidak boleh masuk? Ini, kan rapat terbuka harusnya," teriak salah seorang massa.

Dalam pantauan KlikSamarinda, terlihat Asnar sudah berada di dalam ruangan didampingi beberapa orang yang mengaku perwakilan dari salah satu Ormas kedaerahan meminta pelaksanaan pemilihan Rektor agar ditunda.

“Saya minta proses pemilihan untuk ditunda,” teriak Asnar disambut sorak dari seluruh anggota Senat.

Di dalam ruangan, terlihat Asnar terus memaksa agar dihentikan pelaksanaan pemilihan. Dirinya mengangap mekanisme tahapan pemilihan sudah menyalahi aturan.

“Ini kalau memang rapat harus terbuka, kenapa dilaksanakan tertutup,” lanjutnya dengan nada meninggi.

Tidak hanya itu, Asnar menyebutkan bahwa ada salah satu senat yang memaksa dia untuk mundur dari pencalonan, kendatipun dirinya enggan menyebutkan siapa anggota Senat itu.

Adu mulut pihak panitia dan kubu Asnardan anggota senat terus berlanjut, hingga seorang Anggota Senat meminta agar diluar dari anggota Senat untuk keluar dari ruangan karena tidak befkepentingan dalam rapat Senat tertutup.

Bahkan senat lain, Sri Wahyuningsih selaku anggota Senat F-MIPA Unmul ikut bersuara. Menurutnya, tindakan yang mengatasnamakan putra daerah sangat tidak elegan.

"Saya ini juga orang Kutai. Tetapi menurut saya, ada caracara yang elegan dan lebih pantas dari cara-cara seperti ini,” ungkapnya di tengah perdebatan.

Hal itu disebut juga untuk menjawab tuntutan aspirasi Asnar agar putra daerah Kaltim diperhitungkan dalam pemilihan Rektor. Tak kunjung mereda, aparat Kepolisian yang dipimpin Kapolsek Samarinda Ulu, Kompol Raden Sigit masuk dan memaksa pihak lain di luar anggota Senat untuk keluar.

Kegiatan berlanjut tanpa diikuti Asnar yang memunculkan 3 besar bakal calon rektor Unmul. Selanjutnya, 3 nama besar tersebut akan diteruskan untuk diputuskan Kemenristek-Dikti 13 Desember 2018 mendatang. (*)

Reporter : NR Syaian/KLIKSAMARINDA.COM    Editor : Dwi Hendro B.



Comments

comments


Komentar: 0