24 Oktober 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Torehan Rizal dalam Angka


Torehan Rizal dalam Angka
Banjir di Balikpapan

Opini: Rudi Agung (Tim Tujuh Kaltara)

Walikota Balikpapan, Rizal Effendi, dikabarkan bakal maju di ajang Pilgub Kaltim. Penolakan keras datang bertubi-tubi dari warganya sendiri, nyaris setiap hari. Kenapa sih? Ia dianggap gagal memimpin Balikpapan. Tapi, apa betul begitu?

Sebelum menolak Pak Rizal untuk maju, ada baiknya mengenalnya lebih dekat dengan mengintip seklumit jejak dan torehan angka-angka di media, sebelum dan selama ia memimpin. Tulisan ini lumayan panjang, mari ambil kopi dulu…

Pak Rizal, bekas Pemimpin Redaksi koran Kaltim Post tahun 1995 – 2006. Lantas, menjadi Wakil Walikota Balikpapan tahun 2006-2011 berpasangan dengan Walikota Pak Imdaad Hamid.

Lalu, tahun 2011-2016 menjadi Walikota Balikpapan bersama wakilnya, yang juga kerabatnya saat kuliah, yakni Pak Heru Bambang. Tahun, 2016 sampai saat ini, ia kembali memimpin Balikpapan bersama wakilnya, Pak Rahmad Masud.

Dengan kata lain, sejak 2006 atau selama 11 tahun ia telah duduk di singgasana kekuasaan Balikpapan. Dari periode itu, sejak 2011 atau enam tahun silam menjadi penguasa nomor satu di kota minyak. Bagaimana Balikpapan?

Mari simak, angka-angka ini: Kita mulai dari gizi buruk. Kasus penderita gizi buruk tahun 2016 sebanyak 19 kasus. Dibanding tahun 2015 hanya 15 kasus dan tahun 2014 cuma sebanyak 10 kasus. Selama dua tahun terakhir kasus ini naik.

Itu Data Dinas Kesehatan Balikpapan. Data lainnya, sampai pekan ke-30 tahun 2017, kasus DBD sekitar 680 kasus, dengan kematian dua anak balita. Tahun 2016 ada 4.113 kasus, dengan 26 kematian. Kasusnya jauh menurun. Kita apresiasi.

Sekarang kemiskinan. Kita simak data Badan Pusat Statistik. Tercatat jumlah penduduk miskin Balikpapan tahun 2015 naik menjadi 17.890 orang, atau 2,91 persen dari jumlah penduduk 625.968. Tahun 2014, angka penduduk miskin hanya berjumlah 15.020 orang. Anjloknya perekonomian dua tahun terakhir memicu bertambahnya penduduk miskin.

Sampai akhir 2016 angka kemiskinan 17.550 jiwa dengan persentase 2,81 persen dari total penduduk. Dari tahun 2015, angkanya turun. Tapi tak siginifikan. Dengan kata lain, dari tahun 2014 ke 2015, orang miskin naiknya dua ribuan jiwa. Dari 2015 ke 2016, turunnya hanya 340 an jiwa.

Kita tengok soal banjir. Data BPBD Balikpapan (2016), mencatat kasus banjir dan longsor naik lima kali lipat. Jika tahun 2015 hanya 16 kejadian, setahun kemudian melonjak menjadi 88 kejadian.

Sedangkan total kenaikan kejadian bencana alam sekitar 3 persen di tahun 2016 dibanding tahun 2015. Dari 420 kasus tahun 2015 dan 431 kasus di 2016. Tahun 2017, baru berjalan tujuh bulan sudah ada 28 kejadian.

Mirisnya, tren yang meningkat ini, penanganan masih setengah hati. Belum ada upaya konkret dari Pemkot menanggulangi bencana yang muncul setelah hujan mengguyur. Padahal, 85 persen wilayah Balikpapan termasuk rawan longsor.

Kita intip soal anggaran daerah. Kita mafhum, Balikpapan mengalami tsunami anggaran hebat. Bagaimana Walikota Rizal menyikapinya?

"Keadaan kita dalam kondisi bangkrut. Tidak ada uang,” begitu ungkapan Rizal yang direkam media.

Ia melanjutkan, “Sebenarnya kondisi kita dalam kondisi bangkrut. Perangkat daerah tidak karu-karuan,” keluh Rizal Effendi. Belum selesai guncangan anggaran, Rizal juga blunder dalam kasus pengangkatan Sekda yang kontroversi.

Tak lama, ada pula temuan BPK yang mencengangkan. BPK menemukan delapan temuan potensi kerugian anggaran daerah. Dari temuan itu, dua PNS diduga korupsi dan dibawa ke ranah hukum.

Kalau anggaran daerah defisit, sekarang bagaimana dengan kantong Rizal? Berdasar laporan harta kekayaan penyelenggara negara, dari data KPK: tahun 2012 kekayaan Rizal Rp 3 miliar dan 20 ribu dolar AS. Tahun 2015, kekayaannya Rp 3,2 miliar dan 20 ribu dolar AS.

Ini diluar catatan tahun 2016, dan jumlah yang belum tercatat. Lalu, bandingkan dengan laporan kekayaannya di tahun 2003 dan 2006, saat melaporkan hartanya saat jadi wakil walikota periode 2006-2011. Jumlahnya, sila cari di KPK.

Barangkali, ini musabab penolakan Rizal maju ke Pilgub begitu hebat. Belasan tahun di pemerintahan, namun Balikpapan malah mundur ke belakang dibanding era Pak Imdaad Hamid. Tentu saja, kita tetap harus mengapresiasi kinerja Rizal.

Lantas, bagaimana mungkin ingin memimpin Kaltim? Pemimpin adalah amanah, bukan ajang coba-coba. Tapi, silakan saja jika ingin berjudi dengan langit.

Dari catatan ini, saya ingin mengajak pembaca dan calon pemilih sekaligus parpol agar lebih giat dan jeli sedikit mencari latar dan track record calon pemimpin yang akan diusung, siapapun kandidatnya.

Sebelum menolak, mendukung, mencaci, atau memuji: kita punya kesempatan menentukannya dari sekarang. Toh, siapapun mereka, kelak kandidat itu tetaplah nahkoda kita. Pemimpin yang harus dihormati, dihargai, sesekali ditelanjangi.

Tingginya angka golput dalam pemlihan kepala daerah di kota dan kabupaten, termasuk dalam Pilgub Kaltim lantaran pemilih apatis. Kenapa? Masyarakat sudah sangat muak janji dan pencitraan. Masyarakat butuh calon pemimpin realistis.

Terlebih, era pencitraan yang diawali SBY tahun 2004, telah habis masanya di masa Jokowi. Kini, pencitraan yang melangit justru akan menjatuhkan kandidat, meruntuhkan wibawa Pers yang memolesnya, dan mendongkrak angka golput.

Tentu saja, ini semakin mengotori nilai demokrasi, yang memang telah kotor paska reformasi. Telah kotor sejak UUD 1945 diamandemen.

Pak Rizal, kembalilah. Fokus dulu ke Balikpapan. Ingatlah amanah, kami menyayangimu. Dialogkan pada hati, jangan habiskan energi. Kami tak ingin Bapak dimaki-maki lagi oleh warganya sendiri, kembalilah…

Reporter :     Editor : Klik Samarinda



Comments

comments


Komentar: 0