26 Juli 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Bahaya! Lubang Tambang Kukar Mengintai di Sekitar Sekolah Dasar


Bahaya! Lubang Tambang Kukar Mengintai di Sekitar Sekolah Dasar
Danau dari bekas galian tambang batubara ini dibiarkan menganga, tanpa papan pengumuman larangan, tanpa reklamasi dan dekat pemukiman. Bahkan kini digunakan warga beragam keperluan, seperti sumber air bersih, kerambah sampai buat memancing. (Foto: Mongabay)

KLIKSAMARINDA.COM - Ratusan bekas tambang dibiarkan menganga di Kalimantan Timur. Sebagian besar lubang-lubang berair asam bak danau ini telah memakan korban, puluhan nyawa telah melayang. Siapa pemilik saham perusahaan yang meninggalkan masalah itu? Laporan penelusuran Mongabay yang dikutip Klik Samarinda menyebut, pengusaha, politikus, pejabat, adalah sosok-sosok di belakangnya.

Sekira 25 meter dari belakang Sekolah Dasar SD 033, di Jalan Tenggarong, Kelurahan Loh Iput Darat, Kutai Kartanegara, Kaltim, kolam sebesar lapangan bola menganga bak danau dengan air hijau tua. Kawat berkarat jadi pembatas sekolah dan lubang itu. Sebagian kawat rusak, putus sana-sini. “Void 2 milik (menyebutkan nama perusahaan, Red.).” Demikian bunyi plang dengan cat berwarna merah.

Ternyata kolam dekat SD itu lubang bekas galian tambang batubara perusahaan yang tak diuruk. Tak ada papan peringatan lain, apalagi penjagaan. Padahal lubang ini ada di dekat pemukiman, bahkan dekat sekolah dasar.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 4/2012, jelas menyebut, jarak antara tambang dan rumah penduduk harus lebih 500 meter. Penelusuran ke beberapa area tambang, sejumlah void kurang dari 500 meter dari rumah penduduk.

Masih di Kelurahan Loa Ipuh Darat Kilometer 14, kolam serupa dari perusahaan sama seluas 3 hektare lebih telah menewaskan Mulyadi, pada Desember 2015. Pada hari Mulyadi tewas, kubangan itu dibiarkan tanpa ada petugas jaga. Tak ada pagar penghalang dan papan larangan masuk. Perusahaan baru memasang papan larangan dan pagar sehari setelah Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak mengeluarkan Surat Keputusan perihal penghentian sementara kegiatan produksi batubara tertanggal 18 Desember 2015.

Awang membekukan operasi 11 perusahaan tambang batubara, termasuk PT MHU. Dalam suratnya, Awang mengatakan, 11 perusahaan melanggar aturan karena, antara lain, tak melakukan reklamasi dan revegetasi --istilah teknis untuk menyebut pengurukan dan penghijauan kembali. Perusahaan pun dianggap abai karena tak mengawasi bekas lubang galian.

Ternyata pembekuan izin tak hentikan korban tewas lubang tambang. Setahun kemudian, daftar bertambah panjang. Catatan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, ada 17 perusahaan di Kaltim dengan bekas tambang menelan nyawa warga. Sepanjang 2011-2016, ke-17 void itu menewaskan 27 orang. Sebagian besar korban anak-anak dan remaja.

Koalisi Rakyat dan Petani Anti Mafia Tambang dan Sawit Kutai Kartanegara, menilai investigasi Majalah Tempo edisi 8-14 Mei 2017 dengan artikel berjudul “Kubangan Maut Siapa Punya?” membuat masalah ini mendapat perhatian dari penegak hukum. Menurut anggota Koalisi ini, empat orang petani di Muara Jawa, Kutai Kartanegara dimintai keterangan oleh polisi setempat. Keempat petani itu ialah Supraptomo, Arbain, Jasran dan Abdul Rasyik, yang juga anggota koalisi.

Keempatnya mendapatkan surat panggilan dari Kepolisian Resor Kukar dengan nomor surat berurutan, yakni B/557-558-559 dan 560/V/2017/Reskrim untuk mengklarifikasi legalitas terkait kepemilikan tanah atau lahan.

“Beriringan dengan terbitnya Majalah Tempo Edisi 8 - 14 Mei 2017 yang memuat invetigasi tentang tambang di Kalimantan Timur, 'Kubangan Maut Siapa Punya' ini rupanya telah buat gerah para lingkaran bandar emas hitam. Pemilik yang tak lain adalah para menteri, politisi, mantan militer sampai kepala daerah dan keluarganya,” kata Pradarma Rupang, Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim, mewakili koalisi, melalui keterangan persnya yang dikutip Klik Samarinda dari salahsatu laman online nasional. (*)

Reporter : Kim    Editor : Fai



Comments

comments


Komentar: 0