20 September 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Bupati Rita Widyasari Jadi Pembicara Inspiring Women MKGR


Bupati Rita Widyasari Jadi Pembicara Inspiring Women MKGR
Bupati Rita Widyasari Bicara di Talk Show 10 Inspiring Women MKGR, Selasa 4 April 2017 (Foto: Ist)

KLIKSAMARINDA.COM - Gerakan Perempuan Ormas MKGR melangsungkan MKGR Women’s Gathering dan Talk Show 10 Inspiring Women, Selasa 4 April 2017. Kegiatan yang diisi talkshow digelar dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional dan Hari Kartini.

Nah, Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut. Menurut Rita, perempuan memiliki peran penting dalam kebijakan publik. Banyak kebijakan yang berprespektif gender, lebih terakomodir apabila perempuan memegang jabatan-jabatan publik.

“Hal ini terbukti, sebagai salah satu kepala daerah perempuan, saat ini banyak kebijakan di Pemkab Kukar yang saya pimpin, melalui Program GERBANG RAJA II (Gerakan Pembangunan Rakyat Sejahtera), telah berkomitmen untuk melaksanakan hak-hak perempuan dalam proses kebijakan publik,” ujar Rita.

Sebagai bentuk nyata, komitmen tersebut bahkan tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2016 -2021.

Hetifah Sjaifudian, Ketua Umum Gerakan Perempuan Ormas MKGR, menjelaskan sebagai bentuk nyata memperingati Hari Perempuan Internasional dan menyambut Hari Kartini tahun ini, Gerakan Perempuan Ormas MKGR mengadakan kegiatan MKGR Women’s Gathering dan Talk Show 10 Inspiring Women.

“Kegiatan ini bermaksud memberikan pencerahan dan inspirasi baik kepada kader perempuan MKGR maupun undangan melalui mekanisme perbincangan informal (sharing) dengan para narasumber (inspiring women) yang akan membagi pengalamannya secara langsung,” kata Hetifah.

Hetifah juga menambahkan bahwa secara simbolik, perayaan ini menegaskan tercapainya peningkatan peran kaum perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Sejatinya, momen ini merupakan tonggak asesmen penting akan capaian prestasi sosial, ekonomi, budaya dan politik perempuan di Indonesia” kata Hetifah.

Hetifah menjelaskan peran perempuan dalam pengambilan keputusan pada level kebijakan publik secara kuantitas masih dirasakan kurang, sementara proporsi jumlah perempuan lebih besar dari pria. Hal ini membawa konsekuensi, secara kuantitas perempuan lebih banyak “menikmati” produk dari kebijakan publik yang notabene lebih banyak dibuat oleh pria.

Tuntutan perebutan posisi perempuan dalam pengambilan kebijakan publik merupakan tuntutan yang wajar karena terbatasnya daya tawar perempuan sebagai sasaran kebijakan publik akan membawa implikasi pada produk kebijakan yang kurang ramah gender. (*)




Comments

comments


Komentar: 0