24 Oktober 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Kami Temukan Kelompok Anarkisme Pertama di Samarinda (3)


Kami Temukan Kelompok Anarkisme Pertama di Samarinda (3)
Kolektif Haram Jaddah saat melakukan demonstasi di depan Kantor Guber Kalimantan Timur, Jalan Gajah Mada, Samainda, beberapa tahun lalu. (Foto: Dok. Haram Jaddah for Klik Samarinda)

MENEMUI Dr J dan Mr V --nama samaran sumber kami-- susah-susah gampang. Maklum, keduanya sibuk tenggelam dalam rutinitas harian. Dr J, misalnya, banyak membunuh waktu di sebuah barbershop mungil pinggiran Samarinda. Pun dengan Mr V yang hilir-mudik harus mengejar target dan bertemu klien untuk perusahaannya yang bergerak di bidang interior.

Dua sosok ini merupakan puzzle paling penting dalam perjalanan Kolektif Haram Jaddah (HJ) --kelompok anarkisme pertama yang pernah eksis di Samarinda. Awal pekan lalu, kami menemui mereka di dua tempat berbeda di hari yang sama.

Beberapa syarat mereka ajukan sebelum interview dilakukan. Mulai dari menghapus isi rekaman pembicaran setelah kami tulis, tidak mendeskripsikan biodata dan ciri-ciri fisik mereka secara detail, mem-blur foto dan video yang akan tayang. dan syarat lainnya. Bukan tanpa musabab. Pengalaman masa lalu membuat mereka harus private dalam pelbagai hal. Semua mereka minta atas dasar keamanan. Kami menyanggupinya. (Klik juga: Kami Temukan Kelompok Anarkisme Pertama di Samarinda - 4)

***

SEBUAH quote Friedrich Nietzsche di buku Thus Spoke Zarathustra, tergurat di lengan kiri atas seorang pemuda berperawakan mungil. Terdiri dari lima alenia, tulisan serupa Brush Script itu terbaca dalam dialek Jerman.

“Pertama, kamu terlahir sebagai manusia seutuhnya, alamiah dari seorang manusia. Kedua, kamu akan menangis secara alamiah. Ketiga, kamu akan tertawa dan bergembira secara alamiah. Keempat, yang membuat kamu menangis dan bahagia adalah kamu sendiri sebagai seonggok daging yang bernyawa. Kelima, jadilah manusia yang alamiah,” ucap sang empu tato, Dr J, ketika menjelaskan secara harfiah makna rajah yang melekat di tubuhnya.

Ketika itu, interview ini sudah sampai di penghujung. Dr J menghabiskan dua botol Tebs dan sekantong kripik pedas untuk menemani obrolan kami sekira 30 menit.

Dr J merupakan salahsatu pionir HJ, meski tak ada pengakuan eksplisit dari semua individu-individu di sana atas label tersebut. “Kolektif kan harus egaliter, enggak ada ketua apalagi anggota,” cetusnya, menyeringai.

Sepanjang wawancara, Dr J seolah beromantisme dengan masa lalu. Banyak kisah yang dipaparkannya perihal ihwal kolektif ini berdiri dan berjalan, hingga menemukan karateristik spesifik sebagai sebuah komunitas yang disebut sangat berbahaya secara kelompok maupun individu.

Maklum, masing-masing individu di HJ punya keahlian unik dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ada peretas komputer atawa dikenal sebagai hacker, ada aktivis kampus yang piawai mengorganisir massa, ahli propaganda lewat tulisan, seniman artwork, dan masih banyak lagi.

Keahlian mereka pula kian berkembang sesuai dengan tuntutan kolektif. Segelintir diantaranya bahkan berperan mengkoneksikan kelompok ini dengan jaringan anarkisme lain diIndonesia. Semua individu-individu di sana memiliki peran masing-masing ketika berhimpun menjadi satu dan melakukan aktivisme bersama-sama untuk kolektif.

Dr J sendiri tak menyangka --sekaligus baru menyadari-- betapa kehidupan yang dilalui di dalam kolektif tersebut sangat dekat dengan bahaya.

“Label anti-Tuhan dan ateis itu sering disematkan kepada kami, khususnya gua. Belum lagi teror dari organisasi dan ormas (organisasi kemasyarakatan, Red.) yang ngancam potong kepala segala. Tapi sorry, gua enggak bisa bicarain semuanya, apalagi nyebut nama organisasi dan ormas itu. Bukannya takut, gua bener-bener males aja ngebahasnya,” tuturnya.

Pasal lainnya adalah ketika ia harus head to head dengan seorang intel berpakaian sipil. Dalam sebuah hajatan bernama tabling Food Not Bombs (FNB) dan Lapak Gratis di simpang empat Mal Lembuswana, Dr J mengenali gelagat mencurigakan sang lawan bicara saat bertanya tentang aktivitas mereka ketika itu.

“Aneh aja ada yang tanya, ‘kegiatan apa ini?’ Masyarakat enggak tanya begitu. Apalagi pakai kalimat 'kegiatan'. Jadi gua ladenin deh, jelasin apa yang kami lakuin. Tapi diujung obrolan gua tanya balik, ‘bapak intel kan? Udah ngaku aja, enggak apa kok’. Intelnya diem, terus ngeles (mengelak, Red.),” ceritanya. Dr J tertawa. (*) 

Reporter : Fai    Editor : Fai



Comments

comments


Komentar: 0