17 Desember 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Benny B. Prasetyo, Jurnalis Televisi Samarinda: Pilihan Hidup sebagai Pewarta (1)


Benny B. Prasetyo, Jurnalis Televisi Samarinda: Pilihan Hidup sebagai Pewarta (1)
Benny B. Prasetyo saat melakukan peliputan di lapangan. (Foto: Arsip pribadi for KlikSamarinda)

KLIKSAMARINDA - Malam masih muda ketika lelaki berperawakan mungil itu menceritakan sekelumit kisah hidupnya dalam dunia jurnalistik televisi kepada KlikSamarinda.

Awalnya ia sempat menolak untuk diwawancara. Alasannya, tak ada yang istimewa pada dirinya. “Ah, jangan. Jangan. Saya ini biasa saja, kok.”

Tetapi, begitulah sosok Benny Budi Prasetyo. Pria yang saat ini berprofesi sebagai kontributor INews TV ini dikenal kawan-kawan wartawan yang sering berkumpul di Cafe Phyramid, Kantor Berita Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara Samarinda, sebagai sosok yang rendah hati.

Menurut Suriyatman, Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Kalimantan Timur (Kaltim), Pak Benny merupakan tipe orang yang low profile.

“Gambarannya beginilah. Setiap orang yang berbicara tentang peliputan berita khususnya televisi dengan Pak Benny, seperti menabur garam di lautan.

Tidak menggurui, tetapi mau belajar bersama. Beliau tetap belajar dari hal-hal kecil sekalipun sampai sekarang,” ujar Suriyatman kepada KlikSamarinda beberapa waktu lalu.

Pria mungil yang menetap di Samarinda ini sering “ngantor” di Cafe Pyramid, Kantor Berita LKBN Antara Samarinda. Tetapi, sebentar dulu.

Tubuh mungil Benny tak berbanding lurus dengan pengalaman serta pengetahuannya di bidang jurnalistik, khususnya jurnalistik televisi, yang luas dan dalam.

Ketika KlikSamarinda berkesempatan mengulik “dalaman” Benny dalam dunia jurnalistik televisi, pria kelahiran Jawa ini segera meluncurkan pelbagai narasi tentang jagat jurnalistik yang hampir 15 tahun digelutinya.

Mengawali percakapan tentang dunia jurnalistik televisi, pria yang kerap dipanggil Pak De atau Om Benny ini berbicara kental dalam dialek Jawa.

Penyuka wayang kulit yang tak pernah lepas dari senjata kamera video ini mengawali kisahnya dengan sebuah penegasan; “Saya ini bukan seorang teoretisi dalam jurnalistik.”

Benny memang dibesarkan oleh praktik-praktik peliputan dan jurnalistik di lapangan. Terkadang, ketika ada orang bertanya tentang teori dan teknik broadcasting, pria yang pernah melakoni studi di jurusan Hubungan Internasional Fisipol UGM (minus skripsi) ini akan langsung memberikan contoh.

Misal, cara pengambilan gambar video, menggali informasi dari narasumber, hingga merawat hubungan baik dengan sesama wartawan dan media massa.

“Saya tahu itu. Tetapi saya lebih bisa menjelaskan dengan memberikan contoh secara langsung tentang praktik jurnalistik televisi. Catat, ya. Saya ini seorang praktisi,” ujar suami dari Dariati ini sambil tersenyum.

Tak aneh, berkat pengalaman dan pengetahuan dalam praktik jurnalistik televisi, dua predikat mampu diraihnya saat ini: menjadi dosen tamu pada jurusan multimedia di Polnes Samarinda dan menjadi satu di antara enam ahli pers di Kaltim.

Kiprah Benny dalam konstelasi peliputan berita untuk televisi terhitung hampir dua dekade. Ia termasuk seorang kontributor televisi nasional di Kaltim yang cukup lama bertahan pada profesinya.

Boleh dibilang, pria penyuka traveling ini termasuk generasi perintis jurnalistik televisi di Kaltim, khususnya di Samarinda sampai tahun 2015.

Termasuk di dalamnya Nurhadi yang berdomisili di Balikpapan. Saat berbincang dengan KlikSamarinda, rambutnya yang mulai memutih tak membuatnya lupa terhadap narasi pengalaman hidupnya.



Reporter : Klik Samarinda    Editor : Dwi Hendro B.



Comments

comments


Komentar: 0