20 November 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Kenduri Para Kuli


Kenduri Para Kuli

BUKAN kabar burung yang kami bawa, sebab kami tak lagi memuja prolog dan selayang pandang.

Oleh karenanya --satu dari sekian rapalan itu-- kami tulis baik-baik di sini; perihal para kuli yang menggurat cerita lewat tinta.

Lewat kanal sederhana ini, kami ingin mengurai kisah para pewarta berita yang bertugas di Samarinda secara berkala.

Mereka --sosok-sosok yang mungkin tidak dikenal-- ternyata berada di balik sajian informasi yang saban hari Anda nikmati dari pelbagai media; koran, televisi, hingga online.

Sebagian di antara mereka, boleh dibilang telah sepuh dengan rambut yang memutih. Tapi tetap majenun menelisik berita dari pelbagai tempat yang tak terduga.

Bagi kami, sekelumit cerita ini barangkali bisa menjadi panduan Anda untuk mengetahui lebih dalam seluk beluk kehidupan para jurnalis tua yang senantiasa bertahan di tengah derasnya arus perubahan zaman.

Pun, di tengah gelombang kemunculan generasi-generasi baru bertalenta dari
pelbagai media yang tak kalah menariknya ketika diulas dalam kanal sederhana ini.

Mereka --dengan segenap pengalaman dan kerendahan hati-- mau berbagi kisah yang tak bisa dinilai dalam plakart dan piagam apresiasi.

Karena kami saksi dari apa yang mereka sampaikan, kelak, tentu akan selalu diingat dan tak sekadar menjadi lulabi sebelum tidur.

Inilah kisah mereka --yang kadang-kadang-- tak lagi terlalu suka tidur. Sebab ada tengat yang mengadang.

Mereka yang sering bekerja serabutan hingga halimun menjumput di gulitanya malam.

Mereka yang kemudian pula mulai mengidolakan penjaga-penjaga malam untuk sekadar mengingatkan agar senantiasa terjaga.

Di antara payung dan doa-doa, di hari itu bisik beredar di antara kamboja bahwa waktu sudah habis dan tengat lewat.

Tapi bagi kami, itu tidak berlaku bagi mereka yang masih membawa nyali di jalanan agar tulisan ini punya makna.

Tidak bagi yang hidup selamanya, seperti riff-riff Dimebag Darrell yang dicuri para martir hip-hop.

Atau seperti para nabi pencoleng kebajikan di antara lelap bumi. Bahkan seperti mereka yang membebaskan hujan dari tirani puisi.

Kinerja mereka --bahkan hidup secara personal dan keluarga-- bahkan lebih "liar" dari potongan riff Trevor Peres yang dimutilasi.

Kami cukup hafal; kami tak lagi memuja bab pertama yang isinya melulu soal pengantar untuk sekadar mengejawantah sebuah cerita. Ya, bab pertama, tak penting lagi, selain kisah mereka. (*)

Reporter :     Editor : Fai



Comments

comments


Komentar: 0