20 September 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Sempat Dianggap Punah, Ternyata Ada Gajah Mini di Kalimantan


Sempat Dianggap Punah, Ternyata Ada Gajah Mini di Kalimantan
(Foto: Ilustrasi)

KLIKSAMARINDA - Saat melihat kawanan gajah di televisi, mahfum membayangkan habitat mamalia besar ini berasal dari Sumatera, Thailand, India, atau negara di Afrika. Tapi, ada satu kawasan yang menjadi tempat tinggal familia Elephantidae. Lokasinya di Kalimantan Utara.

Bagi masyarakat setempat --khususnya para generasi tua-- keberadaan hewan yang memiliki belalai ini bukan hal baru di sekitar perbatasan Indonesia-Malaysia. Gajah Borneo Kerdil dengan nama latin Elephas Maximus Borneensis, konon terakhir terlihat sekira awal medio 1960.

Kisahnya bermula ketika seorang prajurit Republik Indonesia (Korps Komando/KKO Marinir, Red.) bertugas di perbatasan. Ketika itu, tengah bergejolak konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia sekira medio 1963-1966. Sang tentara kemudian menembak mati seekor gajah karena mengamuk di sebuah perkampungan di Kecamatan Sebuku, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Informasi yang dihimpun kliksamarinda dari pelbagai portal media online menyebut, Gajah Borneo Kerdil sempat dianggap punah karena tidak satu pun masyarakat di perbatasan yang pernah melihat lagi keberadaannya bertahun-tahun kemudian. Kondisi itu seiring gencarnya aktivitas pembabatan hutan dan masyarakat yang masif membuka areal perkebunan.

Tapi kemudian, pada medio 1990, Kantor Wilayah Kehutanan Kalimantan Timur dikejutkan dengan sebuah laporan. Masyarakat di perbatasan dan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat memperkirakan masih ada kawanan Gajah Borneo Kerdil di wilayah utara Kalimantan. Bukti sahih yang ditemukan adalah jejak kaki dan kotoran.

Berdasarkan laporan itu, maka sejumlah peneliti dan penggiat lingkungan hidup dari lembaga dan organisasi --seperti World Wide Fund for Nature atau WWF-- kian intensif melakukan pemantauan dan penelitian di perbatasan. Apalagi di sana terbentang salahsatu kawasan konservasi terbesar di dunia, yakni Taman Nasional Kayan Mentarang dengan luas 1.360.500 hektare.

Taman Nasional Kayan Mentarang menjadi sangat penting karena merupakan suatu kesatuan kawasan hutan primer dan hutan sekunder tua yang terbesar dan masih tersisa di Kalimantan dan seluruh Asia Tenggara.

Penampakan gajah itu --selain menjadi berita menggembirakan terkait upaya pelestarian-- juga cukup mengkhawatirkan, Alasanya, interaksi antara manusia dengan satwa-satwa langka yang mendekati pemukiman semakin sering. Para peneliti mengindikasikan, kondisi hutan yang menjadi habitat mereka telah rusak dijamah manusia.

Wilayah perbatasan dalam beberapa dekade terakhir, memang menjadi salah satu kawasan paling rawan pelbagai kasus kejahatan. Bukan hanya karena aktivitas illegal logging, penyelundupan dan pencurian ikan. Namun juga peredaran senjata api dan narkotika dan obat-obatan, menjadi ancaman serius bagi Gajah Borneo Kerdil.

Silih berganti pemerintahan serta pelbagai upaya telah dilakukan untuk menekan tindak kejahatan di perbatasan. Namun usaha itu belum mampu mengatasi ancaman kehidupan satwa liar di perbatasan.
Alasan klasiknya, pengamanan terbentur dengan wilayah Kalimantan Timur yang terlalu luas (sekira 1,5 kali Jawa dan Madura, Red.) yang dibarengi dengan kelemahan pelbagai prasarana dan sarana perhubungan serta telekomunikasi.

Akhirnya, sekelumit harap hadir di perbatasan saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 16 November 2012 menandatangani Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2012 tentang Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara --sebelumnya masuk dalam wilayah administratif Kalimantan Timur. Sebelum disahkan, Rancangan UU pembentukan Provinsi Kalimantan Utara telah disetujui oleh Rapat Paripurna DPR pada 25 Oktober 2012 untuk disahkan menjadi UU.



Reporter : Ken    Editor : Fai



Comments

comments


Komentar: 0